Karena Dia Bintang

Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai mengaguminya sedalam ini.

Awalnya hanya diskusi biasa. Tentang hal-hal yang menurutku berat, tapi baginya seperti percakapan ringan di sore hari. Ia tidak pernah terlihat ingin pamer pengetahuan. Justru sering merendah, seolah apa yang ia tahu hanyalah serpihan kecil. Padahal bagiku, isi kepalanya seperti perpustakaan yang tidak pernah tutup.

Bintang.Namanya saja sudah terasa jauh. Dan mungkin memang begitu adanya.

Aku menyukainya bukan karena ia selalu hadir. Justru sering tidak. Bukan karena ia manis. Ia bahkan cenderung datar. Aku menyukainya karena cara berpikirnya.

Ia dewasa. Cara memandang masalahnya tidak sempit. Ia tidak mudah panik, tidak mudah menyalahkan. Ia melihat sesuatu dari banyak sisi. Kadang saat aku baru membaca satu artikel dan merasa sudah paham, ia hanya membaca sebentar dan tiba-tiba menjelaskan lebih luas, lebih dalam, lebih runtut.

Seolah ia tidak hanya membaca kata-kata, tapi juga membaca makna di baliknya.

Aku pernah bercanda dalam hati, “Ini orang kalau jalan mungkin bawa rak buku tak terlihat. Ah, seperti perpustakaan tapi berbentuk manusia”

Ia tahu banyak hal. Tentang hukum. Tentang dunia. Tentang sejarah yang sering dilupakan orang. Tentang ayat-ayat yang turun dengan sebab tertentu. Tentang bagaimana seharusnya manusia berdiri di tengah kekacauan zaman.

Dan yang membuatku diam-diam terpikat, ia tidak pernah menggunakan pengetahuannya untuk merendahkan. Ia menjelaskan dengan tenang. Detail. Seperti seseorang yang benar-benar paham, bukan sekadar hafal.

Setiap kali selesai berbicara dengannya, aku selalu merasa ingin belajar lagi. Ingin membaca lebih banyak. Ingin memperbaiki cara berpikirku. Ia tidak pernah menyuruhku berubah, tapi kehadirannya saja sudah cukup membuatku ingin bertumbuh.

Bintang juga seorang yang bertahan.

Aku tahu hidupnya tidak selalu mudah. Ada fase-fase yang mungkin tidak pernah ia ceritakan sepenuhnya. Ia jarang mengeluh. Jarang membuka luka. Tapi aku tahu, kedewasaan itu tidak lahir tanpa proses yang panjang.

Ia seperti manusia dengan sejuta rahasia.

Ada bagian dirinya yang tak semua orang tahu. Ada ruang-ruang yang mungkin hanya Tuhan dan dirinya sendiri yang mengerti. Tapi anehnya, rahasia itu seimbang dengan jutaan pengetahuan yang ia miliki.

Ia dalam.

Dan aku selalu menyukai hal-hal yang dalam.

Aku tidak pernah menyukainya karena ia sempurna. Aku menyukainya karena ia berpikir. Karena ia mempertimbangkan. Karena ia tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam. Karena ia menjaga batas.

Dan mungkin yang paling membuatku takluk adalah ini: ia membuatku ingin menjadi versi terbaik dari diriku sendiri.

Bukan untuk mengejarnya.

Bukan untuk menyamainya.

Tapi agar jika suatu hari kami berdiri di tempat yang sama, aku tidak merasa terlalu jauh tertinggal.

Aku mengaguminya dengan cara yang sunyi.

Menyebut namanya dalam doa.

Meminta agar ilmunya diberkahi.

Meminta agar langkahnya dimudahkan.

Meminta agar hatinya tetap dijaga.

Entah aku akan selalu menjadi bagian dari hidupnya atau tidak.

Tapi satu hal yang pasti, aku menyukainya karena itu Bintang.Manusia dengan sejuta rahasia,dan sejuta pengetahuan yang membuatku percaya, bahwa dunia ini masih menyimpan orang-orang luar biasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dibawah rahasia Bintang

Tentangku