Dibawah rahasia Bintang

 Namaku Selveren.

Orang-orang memanggilku Veren.

Jika ada yang bertanya sejak kapan semua ini bermula, aku tak akan bisa menunjuk tanggal pasti. Mungkin dari sebuah paragraf yang ia tulis dengan tenang. Mungkin dari kalimat panjangnya yang terasa seperti jalan lurus menuju pemahamanku. Atau mungkin dari caranya menyelipkan makna dalam tanda baca.

Aku tidak pernah membayangkan, ternyata menyukai seseorang lewat tulisan itu semenyenangkan ini.

Awalnya sederhana. Aku hanya membaca. Lalu mengagumi. Lalu diam-diam menunggu unggahan berikutnya seperti menunggu bulan keluar dari balik awan. Ada rasa hangat yang tak gaduh, tak meledak, hanya tumbuh pelan seperti cahaya yang menetes dari langit malam.

Dia kusebut Bintang.

Bukan karena namanya begitu, tetapi karena rasanya memang seperti itu. Jauh. Tinggi. Terlihat kecil dari bawah sini, tapi cahayanya sanggup membuat langit terasa hidup.

Aku tak pernah berani membayangkan bisa berdiri sejajar dengannya. Ia pintar, luas pemikirannya, bicaranya tertata, relasinya banyak. Ia seperti buku yang tebal dan penuh catatan kaki, sementara aku merasa hanya halaman tipis yang sering terlipat di sudutnya. Latar pendidikannya jauh di atas langkah-langkahku. Cara ia melihat dunia terasa lebih matang, lebih dalam.

Dan aku hanya Veren—yang sering ragu, yang sering merasa kurang, yang tak pernah benar-benar yakin pada dirinya sendiri.

Pada awalnya, aku berpikir ini hanya rasa sepihak. Sebuah kekaguman yang tumbuh terlalu subur di taman yang tidak seharusnya. Aku sudah menyiapkan hati untuk kemungkinan paling sunyi: mencintai sendirian tanpa pernah diketahui.

Tapi ada yang berubah.

Semakin hari, rasa itu tak berkurang. Ia tidak pudar seperti embun yang kalah oleh matahari. Ia justru semakin terang, seperti langit yang semakin jernih ketika malam benar-benar datang.

Aku mulai membawa namanya ke dalam doaku.

Awalnya hanya sekilas. “Semoga ia sehat.”

Lalu menjadi lebih lama. “Semoga ia dijaga.”

Lalu menjadi sangat sungguh-sungguh. “Jika memang baik untukku, dekatkanlah.”

Salat malam yang dulu sering tertunda, kini menjadi pertemuan paling tenang antara aku dan langit. Dalam sujud yang panjang, aku menyebutnya dengan hati yang bergetar. Aku bahkan melakukan istikharah pertamaku tahun ini untuknya. Bayangkan, seseorang yang bahkan belum pernah kugenggam tangannya, sudah kuletakkan namanya di hadapan Tuhan.

Setiap malam aku memastikan perasaanku.

Apakah ini nyata?

Atau hanya kekaguman yang tersesat?

Aku menatap langit lebih lama dari biasanya. Bintang-bintang berkelip seperti rahasia yang tak ingin diungkapkan. Dan di antara gelap yang luas itu, ada satu cahaya yang selalu kucari.

Aku sadar satu hal: perasaanku tidak pergi.

Ia tidak hilang meski kutarik mundur.

Ia tidak redup meski kucoba alihkan.

Ia justru semakin jelas, semakin bersinar, semakin sulit untuk kuabaikan.

Lalu sesuatu yang tak pernah kubayangkan terjadi.

Cahaya itu jatuh.

Ke arahku.

Bintang sosok yang selama ini kupandang dari jauh, ternyata menyukaiku juga.

Saat ia mengungkapkan isi hatinya, aku seperti berdiri di bawah langit yang tiba-tiba runtuh menjadi hujan cahaya. Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Tidak ada teriakan, tidak ada tangis, hanya diam panjang yang dipenuhi ketidakpercayaan.

Benarkah ini nyata?

Atau ini jawaban dari malam-malam panjang yang kuhabiskan dalam doa? Apakah ini cara Tuhan berkata bahwa tidak semua yang tampak jauh memang ditakdirkan untuk selamanya jauh?

Jika yang kalian bayangkan adalah hubungan yang riuh dan penuh pengakuan terbuka, kalian keliru. Bintang bukan manusia seperti itu. Ia tidak mengajakku berjalan di jalan yang tak jelas ujungnya. Ia tidak menawarkanku status yang sementara.

Ia hanya berkata jujur.

Bahwa ia menyukaiku.

Bahwa ia berharap aku juga merasakan hal yang sama.

Dan aku… aku memang merasakannya.

Kami tidak memulai sesuatu yang disebut pacaran. Kami tidak membuat janji yang gegabah. Kami hanya membuat satu kesepakatan sederhana—bahwa jika memang ditakdirkan bersama, maka rasa ini tidak akan sirna sekalipun waktu memisahkan kabar dan jarak.

Kami percaya pada janji Tuhan.

Setelah itu, hidup berjalan seperti biasa.

Tak ada perubahan yang mencolok.

Tak ada foto bersama.

Tak ada panggilan mesra di ruang publik.

Yang berubah hanya arah langkahku.

Aku menjadi lebih giat memperbaiki diri. Aku ingin menjadi perempuan yang pantas berdiri di sampingnya suatu hari nanti, bukan perempuan yang terus-menerus merasa kecil di bawah cahaya orang lain. Aku memperbaiki ibadahku, memperluas bacaan, menata ulang niat.

Dan Bintang pun sama. Ia berjalan di jalannya, memperbaiki dirinya dengan caranya sendiri.

Kami tidak saling menggenggam, tapi kami saling mendoakan.

Kami tidak saling menatap, tapi kami saling menjaga.

Kami tidak selalu berkabar, tapi kami saling percaya.

Ternyata rasa itu bukan hanya tentang degup yang cepat atau pesan yang tak sabar dibalas. Ia adalah tentang bagaimana aku menahan diri dari hal-hal yang bisa merusak masa depan yang belum tentu, tapi sangat kuharapkan.

Di beberapa malam, aku masih berdiri di bawah langit yang sama. Menatap luasnya gelap yang tak berujung. Kadang aku bertanya-tanya, bagaimana mungkin sesuatu yang begitu tinggi bisa memilih jatuh ke arahku?

Lalu aku tersenyum sendiri.

Mungkin ini bukan tentang siapa yang lebih tinggi atau lebih rendah. Mungkin ini tentang dua cahaya yang sama-sama ingin tetap menyala tanpa saling membakar.

Veren yang sering merasa biasa saja—akhirnya belajar satu hal: menyukai seseorang bukanlah tentang memiliki secepat mungkin. Ia adalah tentang menumbuhkan diri setenang mungkin.

Bintang tetaplah bintang. Ia tidak turun menjadi bumi. Ia tetap bersinar di tempatnya. Dan aku pun tidak perlu berubah menjadi langit untuk mencapainya.

Aku hanya perlu menjadi diriku yang terus bertumbuh.

Jika suatu hari takdir mempertemukan kami dalam satu jalan yang sama, aku ingin melangkah tanpa rasa minder. Jika suatu hari jarak benar-benar memisahkan tanpa kabar, aku ingin tetap tenang karena pernah menjaga rasa ini dengan cara yang baik.

Karena ternyata, yang paling indah bukan saat cahaya itu jatuh.

Yang paling indah adalah ketika aku menyadari bahwa rasa ini membuatku lebih dekat kepada Tuhan, lebih dekat kepada versi terbaik diriku sendiri.

Di bawah langit malam yang luas, aku belajar bahwa rasa bukan sekadar gejolak. Ia adalah amanah.

Dan aku memilih menjaganya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Karena Dia Bintang

Tentangku