Tentangku

Aku tumbuh sebagai seseorang yang lebih nyaman berbicara dengan pikiranku sendiri. Aku tidak pandai membuka diri, tapi sekali merasa aman, kata-kataku bisa mengalir tanpa henti.

Sebelum ia hadir, hidupku berjalan dalam pola yang tenang atau mungkin lebih tepatnya, terbiasa menahan.

Aku pernah bertahan terlalu lama pada pilihan yang salah. Pada seseorang yang berulang kali mengajarkanku arti dikhianati, tetapi tetap kupeluk dengan alasan kesetiaan. Aku percaya pada pilihanku, bahkan ketika pilihan itu melukaiku berkali-kali.

Sampai akhirnya aku belajar satu hal yang pahit "tidak semua yang kita perjuangkan memang ditakdirkan untuk menetap."


Aku melepaskan perlahan.


Bukan dengan dramatis, bukan dengan benci.


Hanya lelah...


Setelah itu, aku mengosongkan diri dengan cara yang kusukai, yaitu belajar.

Aku memenuhi kepalaku dengan buku, pemikiran, teori, diskusi.


Agar tidak ada ruang tersisa untuk kenangan yang menyakitkan.


Lalu suatu hari, tanpa aba-aba, sebuah pesan masuk.

“Loh dari daerah Sumatera juga, ya?”


Aku bahkan tidak merasakan apa pun saat itu.

Hanya sedikit heran kenapa ia yang lebih dulu menyapaku?

Percakapan itu sederhana. Ternyata kami berasal dari tanah yang sama. Tidak lebih.

Awalnya, ia hanya seseorang yang kalimat-kalimatnya terasa hidup.


Aku membaca tulisannya di beranda, di saluran, di obrolan grup.

Aku mendengarkan cara pandangnya tentang dunia.


"Murni ingin belajar. Tanpa niat melibatkan hati."


Entah sejak kapan aku mulai menunggu tulisannya. Entah sejak kapan aku mulai mencari namanya di antara notifikasi. Dan lebih entah lagi, sejak kapan aku menyelipkan namanya dalam doa yang kupanjatkan diam-diam.


Aku takut.

Bukan takut padanya, tapi pada kemungkinan luka yang sama.

Hatiku pernah menjadi ruang yang porak-poranda. Aku tidak ingin mengulangnya.

Suatu hari ia berkata,

“Manusia itu tempatnya kecewa. Kalau berharap pada manusia, seharusnya tahu konsekuensinya.”

Kalimat itu seperti menepuk kesadaranku.

Aku merasa rasaku keliru.

Aku mencoba menghapusnya.

Meyakinkan diri bahwa ini hanya kagum, hanya kebiasaan, hanya fase.

Tapi semakin kuingkari, semakin ia tumbuh, tenang tapi pasti.

Sebelum mengenalnya, aku tidak pernah berani berharap jauh.

Aku merasa biasa saja.

Tidak cukup percaya diri untuk memikirkan kemungkinan yang lebih tinggi.

Namun entah bagaimana, kehadirannya seperti magnet yang tak terlihat.

Tubuhku bergerak sendiri untuk menjadi lebih baik.

Aku belajar lebih giat, berbicara lebih berani, bermimpi lebih tinggi.

Aku tidak ingin terjatuh terlalu dalam.

Aku tahu rasanya kehilangan.

Aku tahu bagaimana sakitnya ketika yang digenggam ternyata bukan untuk dimiliki.

Tetapi darinya, aku belajar sesuatu yang tidak pernah kupahami sebelumnya:

hadir tanpa wujud pun bisa mengubah hidup seseorang.

Jika hidupku adalah angka, mungkin enam puluh persen darinya pernah disentuh oleh kehadirannya.

Bukan karena ia menyelamatkanku.

Tapi karena ia menggerakkanku.

Aku tidak tahu bagaimana mendefinisikan betapa istimewanya ia.

Yang kutahu, aku tidak ingin kehilangan bintang yang membuat langitku kembali bercahaya.

Dan mungkin, untuk pertama kalinya setelah sekian lama,

aku tidak hanya belajar melepaskan, tapi

aku juga belajar merawat rasa dengan tenang dan seimbang...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dibawah rahasia Bintang

Karena Dia Bintang