Postingan

Tentangku

Aku tumbuh sebagai seseorang yang lebih nyaman berbicara dengan pikiranku sendiri. Aku tidak pandai membuka diri, tapi sekali merasa aman, kata-kataku bisa mengalir tanpa henti. Sebelum ia hadir, hidupku berjalan dalam pola yang tenang atau mungkin lebih tepatnya, terbiasa menahan. Aku pernah bertahan terlalu lama pada pilihan yang salah. Pada seseorang yang berulang kali mengajarkanku arti dikhianati, tetapi tetap kupeluk dengan alasan kesetiaan. Aku percaya pada pilihanku, bahkan ketika pilihan itu melukaiku berkali-kali. Sampai akhirnya aku belajar satu hal yang pahit "tidak semua yang kita perjuangkan memang ditakdirkan untuk menetap." Aku melepaskan perlahan. Bukan dengan dramatis, bukan dengan benci. Hanya lelah... Setelah itu, aku mengosongkan diri dengan cara yang kusukai, yaitu belajar. Aku memenuhi kepalaku dengan buku, pemikiran, teori, diskusi. Agar tidak ada ruang tersisa untuk kenangan yang menyakitkan. Lalu suatu hari, tanpa aba-aba, sebuah pesan masuk. “Loh da...

Karena Dia Bintang

Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai mengaguminya sedalam ini. Awalnya hanya diskusi biasa. Tentang hal-hal yang menurutku berat, tapi baginya seperti percakapan ringan di sore hari. Ia tidak pernah terlihat ingin pamer pengetahuan. Justru sering merendah, seolah apa yang ia tahu hanyalah serpihan kecil. Padahal bagiku, isi kepalanya seperti perpustakaan yang tidak pernah tutup. Bintang.Namanya saja sudah terasa jauh. Dan mungkin memang begitu adanya. Aku menyukainya bukan karena ia selalu hadir. Justru sering tidak. Bukan karena ia manis. Ia bahkan cenderung datar. Aku menyukainya karena cara berpikirnya. Ia dewasa. Cara memandang masalahnya tidak sempit. Ia tidak mudah panik, tidak mudah menyalahkan. Ia melihat sesuatu dari banyak sisi. Kadang saat aku baru membaca satu artikel dan merasa sudah paham, ia hanya membaca sebentar dan tiba-tiba menjelaskan lebih luas, lebih dalam, lebih runtut. Seolah ia tidak hanya membaca kata-kata, tapi juga membaca makna di baliknya. Aku pernah berca...

Dibawah rahasia Bintang

 Namaku Selveren. Orang-orang memanggilku Veren. Jika ada yang bertanya sejak kapan semua ini bermula, aku tak akan bisa menunjuk tanggal pasti. Mungkin dari sebuah paragraf yang ia tulis dengan tenang. Mungkin dari kalimat panjangnya yang terasa seperti jalan lurus menuju pemahamanku. Atau mungkin dari caranya menyelipkan makna dalam tanda baca. Aku tidak pernah membayangkan, ternyata menyukai seseorang lewat tulisan itu semenyenangkan ini. Awalnya sederhana. Aku hanya membaca. Lalu mengagumi. Lalu diam-diam menunggu unggahan berikutnya seperti menunggu bulan keluar dari balik awan. Ada rasa hangat yang tak gaduh, tak meledak, hanya tumbuh pelan seperti cahaya yang menetes dari langit malam. Dia kusebut Bintang. Bukan karena namanya begitu, tetapi karena rasanya memang seperti itu. Jauh. Tinggi. Terlihat kecil dari bawah sini, tapi cahayanya sanggup membuat langit terasa hidup. Aku tak pernah berani membayangkan bisa berdiri sejajar dengannya. Ia pintar, luas pemikirannya, bicaran...