Tentangku
Aku tumbuh sebagai seseorang yang lebih nyaman berbicara dengan pikiranku sendiri. Aku tidak pandai membuka diri, tapi sekali merasa aman, kata-kataku bisa mengalir tanpa henti. Sebelum ia hadir, hidupku berjalan dalam pola yang tenang atau mungkin lebih tepatnya, terbiasa menahan. Aku pernah bertahan terlalu lama pada pilihan yang salah. Pada seseorang yang berulang kali mengajarkanku arti dikhianati, tetapi tetap kupeluk dengan alasan kesetiaan. Aku percaya pada pilihanku, bahkan ketika pilihan itu melukaiku berkali-kali. Sampai akhirnya aku belajar satu hal yang pahit "tidak semua yang kita perjuangkan memang ditakdirkan untuk menetap." Aku melepaskan perlahan. Bukan dengan dramatis, bukan dengan benci. Hanya lelah... Setelah itu, aku mengosongkan diri dengan cara yang kusukai, yaitu belajar. Aku memenuhi kepalaku dengan buku, pemikiran, teori, diskusi. Agar tidak ada ruang tersisa untuk kenangan yang menyakitkan. Lalu suatu hari, tanpa aba-aba, sebuah pesan masuk. “Loh da...